Langsung ke konten utama

Postingan

Pengalaman Camping yang Luarbiasa di Coban Rambat

*Coban Rambat di pagi hari* Setelah pengalaman camping pertama yang begitu menyenangkan dan full healing. Pada awal bulan September kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ajakan teman saya untuk melakukan camping kembali. Setelah sebelumnya sempat skip agenda camping bersama teman-teman di bulan Agustus. Karena rindu merasakan tidur di alam akhirnya saya memutuskan untuk, “Oke saya ikut camping”. *Coban Rambat di pagi hari* Untuk camping kali ini, lokasinya berada di dalam kota saja. Tepatnya di Coban Rambat   Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Perjalanan kali ini memang terasa berbeda dari awal kami berangkat. Kalau sebelumnya kami sudah persiapan berangkat sejak siang hari. Kali ini, karena mungkin kami berpikir bahwa lokasinya berada di dalam kota saja, kami merasa sedikit lebih santai. Selain itu karena semuanya harus bekerja pada hari Sabtu, jadi kami baru bisa berangkat sore hari. Kami baru bisa berkumpul dan kemudian berangkat sekitar pukul 17.00 WIB menjela
Postingan terbaru

Hujan di Bulan Agustus (Cerpen)

Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Barangkali, ini adalah tahun terburuk bagi seluruh umat manusia. Sungguh pandemi ini adalah ujian yang nyata. Wajah-wajah penuh harap dan penuh kegelisahan tampak di setiap penjuru dunia dari tua sampai muda.  Pun denganku yang sehari ini merasakan gelisah tak karuan dan terus saja memikirkan sebuh nama dalam benakku, Anda. Salah satu sahabat baikku sejak masa sekolah yang sekarang tinggal di luar kota. Tanganku dengan cepat mengambil handphone di atas meja kerjaku. Kemudian sebaris pesan ku kirim padanya, “Anda kamu baik-baik saja kan?” Begitulah bunyi pesanku. Entah apa yang salah denganku hari ini, tiba-tiba saja pikiranku terus menyebut nama Anda tanpa bisa ku kendalikan. Aku takut jika ini adalah telepati yang sesungguhnya. Ku tatap layar ponsel ku, tak ada yang berubah. Anda kamu kemana, kenapa tak kunjung menjawab pesanku, kenapa tak kunjung centang biru.  Tiga puluh menit kemudian, jantungku tiba-tiba saja berdetak kencang ketika notifikasi

Bertahan atau Berpisah Semuanya Pilihan

Kita pastinya selalu dihadapkan pada sebuah fase pilihan. Kanan atau kiri, maju atau mundur, stay or leave . Karena hidup memanglah tentang memilih. Apapun yang telah terjadi setelah kita mampu berpikir, semuanya berasal dari pilihan-pilihan akal sehat manusia dengan segala konsekuensi yang siap ia hadapi. Sayangnya, kita pun hanya manusia biasa yang terkadang kelelahan dengan pilihan-pilihan yang harus dibuat setiap waktu, berulang, kemudian menjadi keseharian. Manusia adalah makhluk kompleks dengan alur berpikir yang tak tertebak. Terkadang ia amat mudah mengambil keputusan pada sebuah pilihan yang amat rumit untuk ditentukan, pun kadang ia begitu sulit menentukan pilihan pada hal-hal sederhana bagi dirinya. Manusiawi, sangat manusiawi. Tapi terkadang pendapat orang lain lah yang menjadikan pikiran dan keputusannya terlihat tidak manusiawi, padahal bukan mereka yang menjalani. Termasuk pada pilihan stay or leave. Kita bisa memaknainya dalam berbagai aspek, aspek hubungan, pekerja

Dear 26

Dear 26, Hai kabarmu baik kan? Udah, stop nangisnya. Kamu tahu, aku begitu bahagia dan bersyukur bisa selalu bersamamu selama setahun penuh ini. Menghadapi badai pandemi bersama, tertawa, menangis, berpikir, dilema dan berjuang bersama. Maaf aku jarang memelukmu ataupun berterimakasih padamu atas semua yang telah kita lalui bersama. Aku sering lupa memberimu apresiasi, aku sering lupa memikirkanmu karena terkadang hidupku hanya sibuk memandang pencapaian orang lain atau mendengara komentar orang lain yang melelahkan. Padahal aku tahu, kau telah berjuang dengan saat keras setahun belakangan ini. Ah, maafkan aku ya, kuharap kau tak akan membenciku . Kedepan aku akan belajar untuk lebih banyak memeluknya dan memberi banyak apresiasi kepadanya atas semua yang telah ia lakukan. Aku janji kok, kamu tenang aja. Udah cup nangisnya.😛 Terimakasih sudah mendengar banyak keluhan, banyak kerisauanku dan membuatku percaya atas setiap keputusan yang ku ambil. Terimakasih untuk menyakinkanku bahwa ak

Pengalaman Camping di Buper Jurang Senggani Tulungagung

*semua foto yang dicantumkan merupakan dokumentasi pribadi* Kamu lagi stress , overthinking dan merasa gelisah akhir-akhir ini? Merasa lelah dengan segala kondisi yang ada disekitar? Butuh liburan atau menyegarkan pikiran dan badan? Sepertinya kamu bisa mencoba salah satu kegiatan yang baru saja saya lakukan bersama teman-teman saya di alam, yaitu camping . Well bisa dibilang ini bukan camping pertama saya, tapi bisa dibilang juga ini unofficial camping pertama saya yang benar-benar free tanpa embel-embel pekerjaan. Jadi, awalnya saya tidak pernah berencana untuk menghabiskan akhir pekan saya di awal Juni lalu dengan camping. Sampai salah satu teman, mengajak saya untuk mencoba pengalaman baru ini. Dan begitulah awalannya, hingga kemudian saya bersyukur dengan momen ini di tengah kondisi saya yang memang sangat membutuhkan jalan-jalan wkwkw. *pintu masuk Buper Jurang Senggani dan jalan setapak di area Buper* Camping kami kali ini berlokasi di salah satu buper atau bumi perkemahan

Ayah, Ibu Tolong Dengarkan Anakmu Ini....

                                  Ayah, Ibu aku tahu usiaku tak lagi muda. Kalau kata orang, usiaku ini adalah usia awal menuju dewasa yang sesungguhnya. Maka, tak salah lagi  kau mulai resah dengan masa depanku. Bukan hanya tentang karir, tapi tentang perjalanan panjang selanjutnya. Bagimu, kebahagian ku adalah prioritas, tapi terkadang kau melampaui batas. Ayah, Ibu aku tak pernah bermaksud untuk menjadi anak durhaka kepadamu, tak pernah ada maksud dari hatiku untuk sekalipun menolak permintaanmu. Sayangnya, kali ini aku harus berkata tidak atas apa yang menjadi pilihamu.  Ayah, Ibu aku tahu usiaku sudah menginjak seperempat abad dan kau resah karena putri dari beberapa sahabat, saudara dan tetanggamu telah menggenapkan separuh agamanya, melabuhkan hatinya pada seseorang yang berharga. Sedang anakmu masih tetap pada aktifitas rutinnya berangkat pagi pulang malam, ataupun nongkrong bersama sahabatnya. Barangkali memang kau resah, takut jika suatu saat an